Hakikat Manusia

Posted on 14 November 2010

0


 

Hakikat Manusia,terdiriatas dua bagian, yaitu tentang Kesadaran Diri dan Kesadaran Universal.
A. Kesadaran Diri 

Didalam filsafat kontemporer secara hakikiterpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidakbisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur’an membuka pintudunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaranyang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu. Saatdimana muncul ketikan dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkaneksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja.”Aku” yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawasdiri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifathistoris dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yangmendesak: “Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakahtujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidakbereksistensi?”

Mengemukakan masalah mengenai pribadi dalamungkapan-ungkapan tersebut, berarti mengemukakan masalah kebebasan, masalahtanggung jawab. Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari asalusul. Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab. Hal tersebutakhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Apakah Allah itu masuk dalam definisimanusia atau tidak? Apakah eksistensi manusia itu bersifat teosentris ataupunantroposentris? Partisipasi ataupun cukup dalam dirinya sendiri? Ada apakahdengan pernyataan ulama populer “man arafa nafsahu faqad arafarabbahu?” (barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan Tuhannya).

Dalam arti yang sebenarnya, kata “eksistensi”berarti data kosmis, sejauh manusia yang terlibat secara aktif di dalamnya.Hubungan erat antara masalah manusia dan masalah ketuhanan, terlihat baik padamereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang mengikuti-Nya. Kecenderungantersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri danmerupakan fitrah manusia.

Mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki nalurireligiusitas dalam pengertian apapun, baik yang sejati maupun yang palsu.Sebenarnya adalah sama dengan mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluriuntuk berkepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya, Naluri itu munculberbarengan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup ini sendiri danalam sekitar yang menjadi lingkungan hidup itu. Karena itu setiap orang danmasyarakat pasti mempunyai keinsafan tertentu tentang apa yang dianggap”pusat” atau “sentral” dalam hidup seperti dikatakan olehMircea Elidae:

“Setiap orang cenderung, meskipun tanpa disadarimengarah kepusat dan menuju pusat sendiri, dimana ia akan menemukan hakekatyang utuh yaitu rasa kesucian. Keinginan yang begitu mendalam berakar dalamdiri manusia untuk menemukan dirinya pada inti wujud hakiki itu di pusat alam,tempat komunikasi dengan langit –menjelaskan penggunaan dimana akan ungkapanpusat alam semesta”

Disini kita akan mencoba menelusuri secara beruntun daridasar sekali. Al Qur’an menyebutkan dalam Surat Adz Dzariat 21:

“Dan juga pada dirimu, maka apakah kamu tiadamemperhatikan”

Juga dalam surat Al Hijir 28-29:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada paramalaikat: sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liatkering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Akutelah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh(cipataan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS Al Hijir28-29).

Dalam kerangka ini kita mengambil garis yang jelas dariperistiwa kejadian manusia, dimana para makhluk baik itu setan maupun malaikatmempertanyakan kebijakan Allah yang akan menciptakan manusia, yang menurutpandangan malaikat “manusia” adalah makhluk yang selalu membuatkeonaran dan pertumbahan darah (QS Al Baqarah 30). Tidak kalah sengitnya setanmemprotes keberadaan manusia yang dipandang rendah, yang hanya diciptakan dariunsur tanah, sambil membanggakan dirinya yang dibuat dari api.

Dalam keadaan ini para malaikat gigit jari dan begituterheran-heran: rahasia macam apa ini? Bumi yang hina-dina dipanggil kehadiratZat yang maha tak terjangkau dengan segenap kehormatan dan kemuliaan ini.

Kelembutan illahi dan kebijakan Tuhan berbisik lembut kedalam relung rahasia dan misteri malaikat,

“Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui”(QS:2:30).

Raga manusia termasuk kedalam derajat terendah, sementararuh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi. Hikmah yang terkandung dalamhal ini ialah bahwa manusia mesti mengemban beban amanat pengetahuan tentangAllah. Karena itu mereka harus mempunyai kekuatan dalam kedua dunia ini untukmencapai kesempurnaan. Sebab tidak sesuatupun di dunia ini yang memilikikekuatan yang mampu mengemban beban amanat. Mereka mempunyai kekuatan inimelalui esensi sifat-sifatnya (sifat-sifat ruhnya), bukan melalui raganya.

Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dariyang tinggi, tidak satupun di dunia ruh yang menyamai kekuatannya, entah itumalaikat maupun setan sekalipun atau segala sesuatu lainnya. Demikian pula,jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling rendah, sehingga tidaksesuatupun di dunia jiwa bisa mempunyai kekuatannya, entah itu hewan danbinatang buas atau yang lainnya. Ketika mengaduk dan mengolah tanah, semuasifat hewan dan binatang buas, semua sifat setan, tumbuh-tumbuhan danbenda-benda mati diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untukmengejawantahkan sifat “dua tangan-Ku”. Karena masing-masing sifattercela ini hanyalah sekedar kulit luarnya saja, di dalam setiap sifat itu adamutiara dan permata berupa sifat illahi.

Penjelasan diatas merupakan urutan ungkapan mengenai hakekatdiri yang sebenarnya, dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan hinadisisi lain dinobatkan sebagai “khalifah” (wakil Allah). Bertugasmengatur alam semesta dan merupakan wakil Allah untuk menjadi saksi-Nya sertamengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya. Para mahkluk yang lain tidak melihatada dimensi yang tidak bisa dijangkau olehnya, ia hanya mampu melihat padatingkat yang paling rendah dalam diri manusia. Sementara ia terhijab olehketinggian derajat manusia yang berasal dari tiupan illahi (QS Al Hijir 28-29).

Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungantertentu secara berurutan dalam memahami manusia. Hakikat mengandung maknasesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yangmenyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri.

Al Ghazaly yang hidup pada abad pertengahan tidak terlepasdari kecenderungan umum pada zamannya dalam memandang manusia. Didalam bukubuku filsafatnya ia mengatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yangtetap, tidak berubah-ubah yaitu An nafs (jiwanya). Yang dimaksud an nafs adalahsubstansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat dan merupakan tempatpengetahuan intelektual (al makulat) yang berasal dari alam malakut atau alamamr. Ini menunjukkkan esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisik.Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat. Dan fungsi fisik adalahsesuatu yang tidak berdiri sendiri. Keberadaannya tergantung kepada fisik. Alamal amr atau alam malakut adalah realitas diluar jangkauan indra dan imaginasi,tanpa tempat, arah dan ruang. Sebagai lawan dari alam al khalq atau alam mulkyaitu dunia tubuh dan aksiden-aksidennya esensi manusia, dengan demikian annafs adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri dan merupakan subyek yangmengetahui (Bashirah).

Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebutan nafs, Al Ghazaly mengemukakan beberapa argumen. Persoalan kenabian, ganjaranperbuatan manusia dan seluruh berita tentang akhirat tidak ada artinya apabilaan nafs tidak ada, sebab seluruh ajaran agama hanya ditujukan kepada yang ada(al maujud) yang dapat memahaminya. Yang mempunyai kemampuan bukanlah fisikmanusia sebab apabila fisik manusia mempunyai kemampuan memahami, objek-obyekfisik lainnya juga mesti mempunyai kemampuan memahami. Kenyataan tidakdemikian. Argumen bersifat keagamaan ini , bagaimanapun tidak dapat meyakinkanorang yang ragu terhadap kenabian dan hari akhirat. Karena untuk mempercayaiargumen ini orang terlebih dahulu harus percaya akan kenabian dan hari akhirat.

Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengankenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbedadengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuanyang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazalymemperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapatperbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing.Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda matimempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhanmakhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yangmonoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebutdisebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi daripada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerakbervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalamkenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyaikelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenismakhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untukberbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yangmemungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat.Prinsip inilah yang betul-betul membedakan manusia dari segala makhluk lainnya.

Argumen kesadaran langsung yang dikemukakan seorangmanusia menghentikan segala aktivitas fisiknya1, sehingga ia berada dalamkeadaan tenang dan hampa aktivitas. Ketika ia menghilangkan segalaaktivitasnya, menurut Al Ghazaly, ada sesuatu yang tidak hilang di dalamdirinya yaitu “kesadaran” yakni kesadaran akan dirinya. Ia sadarbahwa ia ada. Bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Pusat kesadaran itulah yangdisebut an nafs al insaniyyat (diri sejati). Dikatakan dalam suatu tafsirshafwatu at tafasir karangan Prof. As Shabuny dalam surat Al Qiyamah ayat 14:

“akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yangtahu).”

Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segalagerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nyaadalah “Aku”.

Wujud “Aku” yang memiliki sifat tahu yangmemperhatikan dirinya atas perilaku hati, kegundahan, kebohongan, kecurangan,serta kebaikan. Ia tidak pernah bersekongkol dengan perasaan dan pikiran, iajujur dan suci, sehingga manusia, setan dan jin tidak bisa menembus alam inikarena ia sangat dekat dengan Allah sekalipun manusia itu jahat dan kafir.Adalah pernyataan Allah atas pengangkatan sebagai wakil Allah, sehingga Allahmenyebut tentang “Aku” ini sebagai ruh-Ku. Yang oleh As Shabunysebagai penghormatan yang maha tinggi seperti penghormatan Allah terhadapBaitullah (rumah Allah).

Ketika itu yang disadari bukan fisik dan yang sadarpunbukan fisik. Kesadaran disini tidak melalui alat, tetapi bersifat langsung.Oleh karena itu subyek yang sadar itu jelas bukan fisik dan bukan fungsi fisikmelainkan sesuatu substansi yang berbeda dengan fisik.

Mungkin juga dikatakan disini tidak bersifat langsung,tetapi melalui perantara, yaitu melalui perbuatanku. Dalam perbuatanku ada yangmendahului, yaitu kesadaran akan aku yang menjadi subyek perbuatan itu.Kesadaran disini bagaimanapun bersifat langsung dan terlepas dari aktivitasfisik. Dengan demikian subyek yang sadar, yang menjadi esensi manusia itu nyataada dan merupakan substansi yang berbeda dengan fisik. Hal ini terbukti ketikamanusia kehilangan aktivitas pada moment menjelang tidur. Sang “Aku”(kesadaran) mengetahui dengan sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi.Begitupun Kehidupan keruhanian dalam mendasari kesadaran ihsan denganmenghentikan aktivitas fisik sebagai kendali sahwati, maka yang timbul adalahkesadaran diri yang mampu menembus alam malakut dan uluhiah. Dimana manusiamencapai puncak eksistensi yang sejati. Kesejatian inilah yang di tuntut olehAllah dalam hal melakukan peribadatan, apakah puasa, zakat, dan shalat. Dengankonteks “ihklaskanlah peribadatanmu dengan tidak melakukan kesyirikansedikitpun” (QS. Az Zumar 11 & 14). Aktivitas ruhani yang diajarkanoleh Allah adalah peribadatan saum yang mana manusia dalam sementara waktudiwajibkan mengendalikan emosinya dan aktivitas keinginan hawa nafsu selamasatu bulan di bulan ramadhan. Selama satu bulan penuh menahan rasa dankeinginan ragawi, samar-samar akan terjadi proses transformasi kejiwaan yangtadinya emosional berubah menjadi ketenangan, dan fisik seolah tidak lagimenuruti keinginannya, sehingga sang fisik mengikuti kehendak-kehendak diriyang sejati. Maka oleh Allah dikatakan mereka itu telah mendapatkan karunialailatul qadar, dimana ia mampu menembus seluruh semesta ruhani dan kembalisebagai manusia sejati dan fitrah. Keadaan Fitrah ini diungkap Al Qur’an, bahwaapabila telah terjadi fitrah pada diri manusia maka sesungguhnya fitrah itusama dengan kehendak Allah (QS. 30:30):

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama(Allah); (tetaplah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahitu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapikebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dalam hal ini manusia tersebut mendapat karunia kepatuhandan ketaqwaan seperti patuhnya alam semesta serta patuhnya tubuh manusia,dimana dimengerti bahwa tidak pernah dirinya merencanakan ada, kemudian kenapaaku ini laki-laki? Atau nafas ini mengalir keluar masuk tanpa aku kehendaki danbisakah aku menangguhkan jangan keburu tua dulu. Hal ini merupakan renunganhakiki, kenapa pikiran ini tidak sepatuh alam dan tubuh yang diselimuti kekuasaanAllah. Ia begitu tampak jelas dalam gerakan dan keberadaan alam dan diri ini.

Dengan argumen di atas bahwa an nafs berdiri sendiridipertegas bahwa ia tidak bertempat, baik didalam badan maupun diluar badan.Karena an nafs bukan materi maka dengan sendirinya tidak mengambil ruang dantidak mempunyai tempat. Sifat dasar an nafs tidak mengandung kemungkinanbertempat. Artinya pernyataan tempat tidak sesuai dihubungkan kepada an nafs,sebagaimana tidak sesuai sifat mengetahui atau tidak mengetahui diletakkan padabenda mati. Al Ghazaly tidak menerima pandangan bahwa an nafs berada di luarbadan. Sebab an nafs dalam keadaan demikian, menurutnya tidak mungkin mengaturbadan, tetapi kalau an nafs berada di dalam badan keberatan lain akan timbul.An nafs bertempat di dalam badan tidak terlepas dua kemungkinan, yaitubertempat pada seluruh badan atau pada sebagiannya saja. Kalau bertempat padaseluruh badan, an nafs semestinya menyusut atau berpindah, jika sebagiananggauta tubuh manusia terpotong dan ini tidak mungkin.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa esensi atauhakikat manusia adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri, bersifatillahi (berasal dari alam amr), tidak bertempat di dalam badan, bersifatsederhana, mempunyai kemampuan mengetahui dan menggerakkan badan, diciptakan(tidak kadim) dan bersifat kekal pada dirinya. Ia berusaha menunjukkan bahwakesadaran jiwa dan sifat-sifat dasarnya tidak dapat diperoleh melalui akalnyasaja, tetapi dengan akal dan sara’ . Untuk itu selain kutipan ayat 29 surat AlHijir di atas juga ayat-ayat yang lain yang menerangkan esensi manusia sepertisurat Ali Imron 169:

“Jangan engkau sangka orang-orang yang terbunuh padajalan Allah itu mati, mereka itu hidup dan diberi rezeki disisi Tuhan.”

“Katakan jiwa itu dari amr Tuhanku.” (QS. AlIsra 85).

Ayat yang pertama menunjukkan kekekalan jiwa dan ayat yangkedua untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari dunia yang sangat dekat denganAllah, alam amr.

Pembangkitan kesadaran akan diri, dikatakan para ulamakerohanian sebagai ajang mujahadah untuk menemukan kesejatian, dan dengankesejatian itu pula manusia akan mencapai hakikat “diri” sertaterbukanya kebenaran adanya Allah secara hakiki, yakni makrifatullah.

Periode pertengahan kejayaaan Islam di Jawa, berlangsungsemaraknya hidup berkerohanian yang dipelopori para dai (wali songo) masa itu.Namun kita melihat kelebihan dan kekurangan metode yang diajarkan, masih banyakmenyesuaikan budaya masyarakat kerohanian Hindu. Sehingga peribadatan yangmasih tersisa sekarang kelihatan asimilasi peninggalan Hindu dan Budha. Akantetapi kita melihat dengan jernih ajaran yang disampaikan oleh beliau dengantetap memurnikan ketauhidan kita kepada Allah. Misalnya dalam mantra berbahasaJawa, tentang perenungan hakiki manusia serta penyadaran dan pencariankesejatian yang dikatakan dalam Al Qur’an sebagai “bashirah”(Aku yangmengetahui).

Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang mahapengasih dan penyayang). Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah… keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakanhidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodratAllah). Ya Hu … Allah Ya Hu … Allah Ya Hu … Allah (ya hu … Allah ya hu… Allah ya hu … Allah). Nabi Muhammad iku utusane Allah (nabi Muhammad iturasullullah).

Artinya: (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra inidiperlukan penghayatan dan pendalaman makna yang hakiki).

Masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yangtidak bisa dicegah. Manusia hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allahyang meliputi nafas. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaandengan patuhnya nafas tanpa reserve (totalitas). Yang mengadakan hidup padamanusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana seluruh makhluk, apakah itubinatang, manusia, tumbuhan serta bumi, matahari semuanya bergerak dinamis atassifat hidup Allah (Al Hayyu). Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atasmanusia, yang mana manusia diwajibkan berfikir dan berkontemplasi untukmenyatakan sebagai wakil Allah (khalifah) maka dengan itu otak harus sesuaidengan kehendak-kehendak Allah (perintah Allah).

Wahai zat yang tidak sama dengan makhluknya.
Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu rasulullah.

Disini kita melihat sejarah manusia ketika mensikapi atasdirinya dalam pencarian diri sejati secara universal. Al Qur’an telahmemaparkan sebelum para pemikir barat memulai.

Hakekat Manusiamenurut Islam
Al-Qur’an memandang bahwa manusia adalah makhluk biologis, psikologis dansosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada taktir Allah, sama dengan makhluklainnya. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan illahi atauroh Allah yang memiliki keterbatasan dalam memilih untuk tunduk atau menentangtakdir Allah. Pemikiran tentang hakikat manusia dibahas dalam filsafat manusia.Agaknya, manusia sendiri tak henti-hentinya memikirkan dirinya sendiri danmencari jawab akan apa, dari mana dan mau kemana manusia itu. Pemahaman yangtak utuh tentang manusia dapat berakibat fatal bagi perl;akuan seseorangterhadap sesamanya, misalnya saja pandangan bahwa manusia merupakan faselanjutan dari spesies tertentu yang mengalami evolusi dan natural selection, akanberimpikasi pada keyakinan bahwa manusia akan terus berkembang menujupenyempurnaan spesies.
Meskipun Islam memandang dalam dua dimensi, yakni jasad dan roh ataumateial dan spritual, lebih dari itu, Islam secara tegas mengatakan bahwamanusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah, dapat dididik dan mendidik,hamba Allah yang mulia, berfungsi sebagai pemimpin atau pengelola bumi, danterakhir dalam keadaan suci atau memiliki kecendrungan menerima agama ataufitrah. Berbeda dengan binatang yang Cuma memiliki nnafsu dan isting hewani,nafsu yang ada dalam diri manusia diimbangi dengan potensi akal untuk berfikirdan menimbang apakah sesuatu itu baik atau buruk, membahayakan atau tidak,sedemikian hingga manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya tadi dan tidakberjerumus pada perbuatan tercela. Muslim kaffah tidaklah identik dengansuperman dan spideman yang ditokohkan sebagai pahlawan pembela kebenaran dankekuatan super tak terkalahkan. Gambaran manusia seperti itu menyesatkan,karena disamping manusia memiliki keistimewaan juga memiliki kelemahan.
Kesadaran bahwa manusia hidup didunia sebagai makhlukciptaan Allah dapat menumbuhkan sikap andap asor dan mawas diri bahwa dirinyabukanlah tuhan. Oleh sebab itu ia melihat sesama manusia sebagai sesama makhluk,tidak ada perhambaan antarmanusia. Jadi, seorang istri tidak menghamba padasuami, dan seorang rakyat tidak menghamba pada pemerintah. Baginya, yang patutmenerima penghambaan dari manusia tak lain adalah Allah. Justru, Allah tidakmenciptakan manusia selain untuk menghamba atau beribadah kepada-Nya. Olehkarena itu tidak berlaku konsep manusia sebagai homo homoni lapas atau manusiasebagai pemangsa bagi manusia yang lain. Tidak ada keistimewaan antara manusiadengan manusia yang lain kecuali karena ketaqwaannya kepada Allah. Meskipundemikian, kelebihan dan kemuliaan manusia tidaklah bersifat babadi, tergantungpada sikap dan perbuatannya. Jika manusia tersebut berbuat kerusakan danberakhlak madzmumah, karunia kemuliaan berupa akal, hati dan panca inderanyatidak dipergunakan semestinya, maka predikat kemanusiaannya turun ketingkatyang paling rendah, bahwa lebih rendah dari hewan ternak. Disamping kelebihan,manusia memiliki aspek kelemahan misalnya kikir, paling banyak membantah, penuhkeluh kesah, memiliki hawa nafsu yang mengajak pada kejahatan, mudah putus asadan tidak berterimakasih. Sebagai hamba Allah, manusia memikul tanggung jawabpribadi, orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan pada harikiamat nanti mereka datang kepada Allah dengan sendiri-sendiri. Ini membuktikanbahwa manusia sebagai hamba Allah itu memiliki kebebasan individual atasdirinya sendiri namun tetap bertanggung jawab atas segala perbuatanya.
Sebagai khalifah, manusia muslim dimaksudkan tampildibumi ini dengan wajahnya yang ramah dan anggun untuk memimpin, mengelola danmemakmurkan bumi. Bila hal tersebut tidak dilakukan, maka fungsi khalifah tadidapat diambil oleh manusia dan golongan yang lain.
Sumber :
Posted in: Uncategorized